visit us
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
Jakarta
March, 2014
11 : 45
weather
temperature
°C



img
Other
Revolusi Rupiah Sejak Pasca Kemerdekaan. Gimana ya Bentuknya?

GoodFriends, seiring berjalannya waktu, nggak terasa umur kita makin bertambah dan nggak cuma kamu yang umurnya bertambah, tapi juga kemerdekaan Indonesia yang pada tahun ini sudah mencapai angka 72 tahun, lho! Selama 72 tahun ini banyak banget yang berubah dan berkembang dari Indonesia. Mulai dari pembangunan, keadaan ekonomi, sampai juga teknologi yang sampai saat ini masih terus berkembang. Salah satu hal yang masih terus berkembang dan berevolusi adalah bentuk uang Indonesia yang dari dulu mengalami perubahan yang cukup signifikan. Yuk, kita lihat bagaimana revolusi uang Indonesia pasca Indonesia merdeka!

Uang Indonesia Kuno 1945-1948 (Masa ORI)

1. Uang Indonesia Kuno 1945-1948 (Masa ORI)

Pasca kemerdekaan banyak banget pihak yang mendesak pemerintahan Indonesia untuk mencetak uang sendiri sampai pada akhirnya pemerintahan menciptakan ORI (Oeang Republik Indonesia). Pendistrubusian ORI ini dapat dianggap kurang berhasil karena keadaan ekonomi Indonesia pada saat itu memang nggak baik. Walaupun begitu, peredaran ORI masih tetap dilakukan karena berhasil meningkatkan solidaritas serta nasionalisme rakyat Indonesia. Penerbitan ORI ini juga dilakukan secara bertahap mulai dari tahun 1945-1948. Angka yang ada di dalam ORI pun masih tercetak seperti 1 sen, 5 sen, dan yang paling besar adalah nomimal 600 rupiah. Jangan kaget, di dalam mas ORI ada pecahan yang lucu dengan nominal senilai ½ sen dan juga 2 ½ sen, lho!

Uang Kertas Pemerintah Republik Indonesia Serikat

2. Uang Kertas Pemerintah Republik Indonesia Serikat

Pada 27 Desember 1949, berdiri Republik Indonesia Serikat, negara federasi hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar. Bentuk baru Indonesia ini berlangsung selama 1949-1950. Selama setahun berjalan, pemerintah RIS merilis uang kertas yang dinamakan Uang Kertas Pemerintah Republik Indonesia Serikat. Ada dua nominal yang tersimpan di Museum Bank Indonesia, yaitu Rp 5 dan Rp 10. Setelah ORI selalu dicetak di Yogyakarta, maka uang kertas pemerintah RIS ini dicetak di Jakarta pada 1 Januari 1950. Penandatangan adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara, menteri keuangan ke-5. Uang rupiah baru ini berukuran 136×34 mm dan didominasi warna merah.

Uang Kertas Republik Indonesia Pertama

3. Uang Kertas Republik Indonesia Pertama

Tahun 1951, De Javasche Bank dinasionalisasi melalui aturan darurat tahun 1951 dan menjalankan fungsi sebagai bank sentral. Menyusul itu, tahun tersebut pemerintah RI merilis dua seri uang baru dengan nominal Rp 1 dan Rp 2,5. Uang ini dicetak di Security Banknote Printing Company, Amerika Serikat dengan  ditandatangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara.

Namun, pada tahun 1953, undang-undang diperbarui menjadi undang-undang mata uang sehingga dua seri mata uang emisi tahun 1951 diperbarui pula dengan tampilan baru dan tandatangan menteri keuangan baru ketika itu yaitu Soemitro Djojohadikusumo.

Uang Kertas Cetakan Bank Indonesia Seri Pertama (1952-1954)

4. Uang Kertas Cetakan Bank Indonesia Seri Pertama (1952-1954)

Pada tahun ini, rupiah dicetak oleh Bank Indonesia yang merupakan nama baru dari De Javasche Bank setelah dinasionalisasi. Denominasi yang dirilis mulai dari 5 rupiah sampai 1.000 rupiah. Uang rupiah yang terbit tahun 1952 itu ditandatangi oleh Indra Kasoema selaku Direktur Bank Indonesia dan Sjafruddin Prawiranegara selaku Gubernur Bank Indonesia. Sayangnya, uang serial ini hanya beredar sampai dengan November 1954 saja, GoodFriends. Beberapa seri uang yang dikeluarkan memiliki gambar pahlawan nasional diantaranya adalah R.A Kartini dan Pangeran Dipongoro.

Uang Kertas Bank Indonesia (1958-1960)

5. Uang Kertas Bank Indonesia (1958-1960)

Dikarenakan keadaan ekonomi Indonesia yang masih berantakan dan labil, pada masa-masa ini pemerintahan Indonesia sering banget mencetak uang baru, ditarik, cetak, ditarik lagi. Sekitar tahun 1958, pemerintah RI merilis uang kertas Bank Indonesia seri hewan, mulai pecahan Rp 5, sampai Rp 1.000. Sebagai contoh adalah uang pecahan Rp 1.000 yang berukuran 173 x 89mm. Uang ini dirilis pada 2 September 1958 tapi setahun kemudian sudah ditarik lagi. Selanjutnya, pada tahun 1959, Bank Indonesia kembali merilis uang rupiah kertas seri terbaru. Kali ini dengan tema Pekerja Tangan. Emisi  pertama adalah untuk uang kertas pecahan Rp 5 dan Rp 100. Uang rupiah seri ini dicetak di Pertjetakan Kebajoran. Berlanjut pada tahun 1961, seri lengkap uang rupiah ini dirilis mulai Rp 5 sampai Rp 1.000. Seri pekerja tangan ini juga berlanjut sampai tahun 1964, ketika Bank Indonesia untuk pertama kali merilis nominal Rp 10.000.

Uang Indonesia Lama (Masa Orde Baru) Uang Indonesia Lama (Masa Orde Baru)

6. Uang Indonesia Lama (Masa Orde Baru)

Saat pemerintahan Soeharto, kondisi ekonomi Indonesia dapat dikatakan sudah mulai cukup stabil. Bank Indonesia akhirnya merilis uang cetakan baru pada tahun 1968 dengan seri pertama bergambar Jendral Sudirman. Pada masa ini, nominal yang dikeluarkan sudah mulai besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Nominal terbesar pada uang Indonesia lama adalah 10.000 rupiah. Tanggal 23 Agustus 1971 mendevaluasi rupiah sebesar 10%, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp415,00 (sebelumnya Rp378,00). Selama kepemimpinan Orde Baru 32 tahun, Bank Indonesia melahirkan berbagai seri uang rupiah baru. Hampir setiap dua tahun, uang rupiah baru dalam berbagai seri dirilis. 

Mimin yakin banget nih beberapa di antara kalian pasti masih merasakan beberapa seri cetakan uang di zaman ini khususnya buat para generasi 90-an alias generasi milenial, contohnya kayak pecahan 500 bergambar monyet yang sering dijadikan bahan ledekan sama temen-temen sekolah yang mulai rilis pada tahun 1992.

Masa Reformasi (1998-sekarang)Masa Reformasi (1998-sekarang)Masa Reformasi (1998-sekarang)

7. Masa Reformasi (1998-sekarang)

Krisis moneter membangkrutkan perekonomian Indonesia. Inflasi melonjak, perbankan ambruk, kemiskinan makin merajalela. Mata uang rupiah terkapar menghadapi dollar Amerika Serikat. Setelah sekian episode dramatis di sektor ekonomi, kehadiran IMF, sampai pada kejatuhan Soeharto oleh gerakan people power sepanjang tahun 1997. Indonesia perlahan bangkit. Pada tahun 1999, lahirlah seri baru uang rupiah yang cukup monumental yakni uang rupiah baru dalam wujud pecahan kertas dengan nominal paling besar Rp 100.000. Masih inget dong pecahan 100 ribuan dengan bahan plastik yang nggak bisa robek?

Pada tahun 2004, Bank Indonesia kembali merilis rupiah dengan seri terbaru yang sampai saat ini pun masih kita gunakan sehari-hari. Pastinya kamu pun juga masih menyimpan uang seri ini kan? Nggak terasa banget ya uang ini ternyata sudah dirilis sejak 13 tahun lalu. Pada tahun 2009, Bank Indonesia pun mencetak nominal baru senilai 2.000 rupiah dalam bentuk kertas. Perubahan seri dan bentuk rupiah pun nggak hanya dapat dilihat dalam uang kertas aja, perubahan ini juga dapat dilihat dalam uang logam seperti perubahan logam 500-an dan 1.000-an menjadi warna silver dengan bahan yang lebih ringan.

Perjuangan Bank Indonesia nggak sampai di situ aja, GoodFriends. Pada Desember 2016 lalu, BI merilis uang pecahan baru yang memiliki 12  gambar pahlawan nasional di bagian depannya. Banyak kalangan menilai penampilan uang rupiah baru tahun emisi 2016 ini mirip sekali dengan uang euro di Uni Eropa. Kalangan lain menilai, uang rupiah seri baru ini mirip dengan renminbi atau yuan milik China. Pastinya, tampilan uang rupiah baru 2016 ini memiliki warna mencolok dan juga desain yang lebih modern dan minimalis. Sayangnya, sampai tahun 2017 ini penggunaan uang baru masih belum merata dan masih dicampur dengan uang lama seri 2004. 

Gimana nih menurut kamu, GoodFriends? Rupiah seri manakah yang paling kalian suka? Jangan lupa tinggalkan comment di bawah ya! [Chrissila Jessica | Sumber: halomoney.co.id & uangindonesia.com]