visit us
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
Jakarta
March, 2014
11 : 45
weather
temperature
°C



img
Movie
Review – Cinderella (2015)

Hai Good Friends, sekarang pada lagi demam Cinderella di mana-mana, kalau kamu belum nonton filmnya di bioskop, ada baiknya baca dulu ulasannya di sini sembari minum Good Day Avocado Delight.

 

Di mulai dengan Alice in Wonderland 2010 lalu kemudian berturut-turut dilanjutkan dengan Oz: The Great and Powerful sampai yang terakhir Maleficent, raksasa Disney seperti tengah gencar-gencarnya mencanangkan program re-telling dongeng-dongeng animasi klasik mereka ke dalam versi live action-nya. Meskipun bisa dibilang semua adaptasi versi ‘manusia’ itu berhasil memperoleh pendapatan yang terbilang bagus, namun di saat bersamaan, secara kualitas bisa dibilang mengecewakan. Alice in Wonderland garapan Tim Burton terasa terlalu suram, Sam Raimi dengan Oz: The Great and Powerful kurang mengigit sementara Maleficent yang menjual pesona Angelina Jolie malah yang paling buruk. Kesimpulan yang bisa ditarik dari rentetan ‘kegagalan’ yang didapat ketiganya bisa jadi karena mereka kelewat ‘kurang ajar’ ketika mencoba memodifikasi cerita dari sumber aslinya dengan tujuan, menjadi tontonan menyengarkan yang sayangnya di lapangan malah kurang disukai.

Seperti belajar dari kesalahan yang sudah-sudah, Disney mencoba untuk tidak lagi terlalu ‘lancang’ mengobrak-abrik sumber aslinya di proyek mereka selanjutnya. Salah satu perjudian besar yang dilakukan oleh perusahaan film paling ambisius sedunia ini dengan menggantikan Mark Romanek (Never Let Me Go) di posisi sutradara setelah muncul ketidak cocokan ide (Romanek ingin membuat versi yang lebih gelap untuk sang Cinderella, sesuatu yang terbukti gagal di masa lalu),  menggantikannya dengan sutradaraThor Kenneth Branagh untuk menukangi adaptasi teranyar dongeng klasik si Upik Abu ini, dan yang paling penting adalah naskah gubahan Chris Weitz (The Golden Compass) tidak sampai melenceng kelewat jauh dari adaptasi animasi-nya yang sukes ketika dirilis 1950 lalu.

 

Ya, nggak mudah memang menggarap sesuatu yang sudah bolak-balik dibuat dan usang seperti cerita Cinderella yang punya banyak wujud dari buku, animasi, live action, drama panggung, drama musikal sampai lusinan komedi romantis yang terinspirasi dari buah karya sastrawan Perancis  Charles Perrault yang pertama kali dirilis tiga abad lalu itu, bahkan di masa lalu perfilman lokal pun pernah sempat latah membuat versi mereka dala Ira Maya Putri Cinderella. Karena Disney mencoba belajar untuk tetap setia, kamu tidak akan menemukan sesuatu yang kelewat berbeda di keluaran mutakhirnya. Si Upik Abu masih dipanggil Cinderella, Ella sih lebih seringnya. Dimainkan oleh bintang Downton Abbey, si jelita Lily Jones. Ia masih seorang gadis cantik baik hati yang nasibnya berubah drastis semenjak ayahnya (Ben Chaplin) kegenitan menikah lagi dengan wanita yang salah, yang ujung-ujungnya malah membuat sang putri sengsara. Sejak kematian sang bapak Ella harus rela beralih profesi menjadi budak di rumahnya sendiri buat ibu tiri (Cate Blanchett) dan dua putrinya yang kejam, selanjutnya jika kamu tidak terlahir di hutan dan jauh dari peradaban pastinya sudah tahu apa yang terjadi. Ada pangeran tampan dalam wujud Rob Stark eh, maskud saya Richard Madden yang terpesona sampai-sampai harus mengadakan pesta dansa besar-besaran untuk bisa bertemu kembali dengan Ella. Lalu , ada ibu peri (Helena Bonham Carter dengan deretan gigi kemilau) yang memulai segala keajaiban berujung kereta kencana, tikus-tikus CGI, gaun super cantik, sepatu kaca sampai dentingan ke-12 jam tengah malam sebelum semuanya berakhir bahagia selamanya ketika sang pangeran akhirnya menemukan pemilik sepatu sebenarnya.

 

Seperti ujung mata pisau, keputusan Disney untuk tidak banyak merubah narasinya adalah sebuah perjudian berani di mana di satu sisi ada resiko besar penontonnya akan merasakan kejenuhan ketika harus kembali menikmati premis basi yang sudah kelewat familiar itu, namun di sisi lain dengan mengulang kembali cerita yang sama, tugas Kenneth Branagh menjadi lebih mudah karena sutradara sekaligus aktor senior Inggris itu bisa lebih memfokuskan pada presentasinya yang harus diakui, cukup menyengarkan untuk dongeng berusia tiga abad lebih. Ya, Branagh bisa dibilang sukses memoles dongeng sebelum tidur legendaris ini dalam sebuah penyajian yang memandukan unsur klasik dan kontemporer dalam porsi yang berimbang.  Seperti yang dilakukannya dalam Thor, Branagh memberi sentuhan dramatis ala Shakespearean yang lebih manusiawi sekaligus elegan pada Cinderella miliknya, menjaga momentumnya dengan baik dan meledakannya di saat yang tepat dengan pengunaan spesial efek cantik yang menegaskan unsur fantasi yang diisi pesan keberanian dan kebaikan tanpa harus terkesan berlebihan, termasuk momen romansanya yang juga meskipun terkesan cheesy namun berhasil tersaji manis dan lembut. Naskah gubahan Chris Weitz mungkin terkesan malas, namun bukan berarti ia tidak memberikan sedikit, ya, hanya sedikit penambahan di beberapa bagiannya untuk memberi sentuhan kesegaran, misalnya seperti porsi ibu kandung CInderella yang diberikan lebih banyak untuk membentuk jati diri Cinderella sejak kecil, atau juga seperti sedikit variasi cerita menjalang akhir yang cukup bagus tanpa harus melenceng jauh. Dan saya masih belum menyebutkan bagaimana desainer kelas Oscar Sandy Powell mampu memberikan parade kostum-kostum luar biasa yang terlihat sederhana namun secara bersamaan juga terkesan sangat anggun yang secara tidak langsung sudah menjadikan artistik Cinderella menjadi bernilai tinggi.

 

Tentu saja daya tarik utama ada pada pundak Lily James. Memainkan peran sebagai salah satu karakter dongeng paling ikonis di dunia, James bisa dibilang sukses menjalankan tugas berat ini. Memanfaatkan kecantikan dan pesonanya, karakter Cinderella versinya mampu memancarkan kelembutan, keberanian, kesederhanaan dan cinta dengan kekuatan sama besarnya, sesuai dengan pesan-pesan tentang“courage and kindness” yang kerap digaungkan di sepanjang film. Sementara sang prince charming yang dibawakan Richard Madden mungkin tidak kelewat istimewa. Ya, Madden memang tampan dengan senyum dan tatapan maut-nya, namun saya tidak merasakan aroma ‘charming’ seorang pangeran yang semestinya. Bisa jadi Cinderella adalah dongeng yang menciptakan presepsi buruk tentang ibu tiri, dan pastinya karakter step mother ini menjadi tidak kalah pentingnya dalama pergerakan cerita. Beruntung Branagh mendapatkan aktris hebat macam  Cate Blanchett yang mampu menebarkan ancaman menakutkan sekaligus keanggunan dari caranya berbicara, dari caranya menatap jijik putri tirinya dan dari setiap tawanya yang dibuat-buat, ya, Blanchett memberi energi tersendiri untuk menguatkan salah satu sektor penting dalam narasinya.

 

Tentusaja Good Friends Disney nggak akan membuatmu kecewa meskipun dengan cerita yang sudah pasti kamu tau gimana akhirnya, namun film ini akan tetap memukau & membawamu kedunia Disney nan Magis